Senin, 27 Mei 2013

Jutaan Orang Bisa Buta



                                                         
         Radio MTA selalu menyatakan bahwa hadist nabi berbunyi  “Kalau ada yang memuji-muji dirimu maka taburkan pasir dimukanya.”  Ini diucapkan berkali-kali melalui radionya yang disiarkan berulang-ulang melalui pokrolnya  Sukino. Pokrol Sukino selalu mengolok-olok dan menjelek-jelekkan orang bershalawat karena itu bid’ah. Jadi seolah-olah dia sendiri yang paling benar.  Ini suatu hal yang bertentangan dengan akhlaq nabi. Karena Nabi Muhammad adalah orang yang terpuji, akhlaqnya mulia, maka tidak mungkin mengajari sahabatnya dengan berbuat kasar dengan menaburkan pasir di mukanya pada orang yang memujinya. Haruskah kita menyediakan pasir di kamar kita untuk menaburi muka istri atau suami kita ketika sedang memuji-muji keindahan kecantikan atau  ketampanan kita  ketika kita akan menggauli istri kita ? ??.
               Suatu hal yang sulit dipercaya. Bagaimana jika ada orang  merayu  orang    yang dicintai supaya  cintanya diterima ?  pasti banyak pria yang  menjadi buta karena taburan pasirnya. Dan pasti para wanita setiap pergi keluar harus membawa tas berisi pasir. Pasti banyak orang tuanya juga yang menjadi buta karena taburan pasirnya. Karena bila orang tua  menyanjung anaknya memuji yang cantik atau yang  ganteng atau yang pinter  lalu harus kena taburan pasirnya. Dan bagaimana nabi sendiri kalau  memuji sahabatnya  yang bagus atas prestasinya ? Haruskah kena taburan pasir ?. Ini hanya suatu akal-akalan orang yang benci kepada sholawat.  Orang bershalawat itu ada dasarnya  bukan karena kemauannya sendiri, dalam Al-Quran berbunyi :
“Innallaha wa malaa-ikatahuu yushalluna ‘alan nabiyy;yaa ayuuhal-ladzina aamanuu shalluu ‘alai-hi wa sallimuu taslimaa.” 
(Al-Ahzab : 56)
Artinya : Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat (memohonkan kesejahteraan) untuk Nabi (Muhammad). Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam  dengan penuh penghormatan kepadanya. 
             Sudah jelaskan ini bersumber dari Al-Qur'an, tetapi mengapa tidak mau  mengikuti petunjuk ini  malah mengambil hadist yang  meragukan kebenarannya yang menggambarkan akhlak nabi seolah-olah akhlaknya buruk, bahasanya kasar sperti preman.  Jadi ajarannya bertentangan dengan agama Islam yang sudah dianut kaum muslimin Indonesia selama ini sejak jaman dahulu  terutama para Ahli Sunah.
                Hadist-hadist yang selama ini dianut dinyatakan dhoif. Namun yang menjadi pertanyaan  ialah cara mendhoifkan hadist  dengan hanya berpedoman krowi-krowi. Kok mudah sekali pedomannya. Jadi  mengadakan penelitian ribuan tahun lamanya hanya menggunakan krowi-krowi sebagai tolok ukur. Pada zaman Rosul  masih hidup agama Islam sudah menyebar ke beberapa negara , tetapi banyak hadist-hadist yang dipangkasi dengan hanya berpedoman krowi, seolah-olah pada zaman itu orang Islam hanya beberapa orang saja. Jadi jelas tidak valid hasilnya dan sulit dipercaya. Banyak hadist yang didhoifkan (diragukan) atas pedoman krowi saja. Bahkan hadist-hadist yang menerangkan Idul Adha semuanya dinyatakan dhoif.  Ini namanya langkah-langkah sembrono yang mengabaikan keselamatan umat. Salah-salah taruhannya masuk neraka lebih dulu dengan mengajak jutaan pengikutnya. Itu ingin memreteli amal-amal yang telah berjalan ribuan tahun.  Cobalah pikirkan. Kalau tiap hari hanya mencari keburukan para kyai zaman dahulu yang telah banyak berjuang menyebarkan Islam dengan peralatan yang serba terbatas, buku-buku dan alat tulis  masih langka. Betapa sulitnya kala itu dan betapa mudahnya di masa sekarang sehingga orang sekarang punya hoby suka mencemooh orang-orang terdahulu. Kalau ada orang menceritakan sejarah perjuangan para  wali atau para ulama terdahulu malah dilecehkan sebagai dongeng yang tidak perlu dipercaya karena tidak ada bukunya. (Apa ada orang memuji kebesaran Allah kok malah masuk neraka. Suatu hal yang tidak masuk akal.).
              Jadi begitulah cara menggoyahkan keyakinan agar kepercayaan terhadap  pesantren menjadi  luntur  dan kemudian hilang. Namun kita harus tetap yakin , data yang ada di pesantren adalah benar karena  terdapat urutan sumber data yang tidak terputus. Ada silsilah keturunan maupun para guru-guru terdahulu yang  jelas alamatnya yang  jelas ajarannya yang dapat dijadikan sebagai pegangan. Jadi tetaplah meyakini apa yang selama ini kita amalkan.
                Semoga Allah SWT  selalu membimbing kita ke arah yang benar. Amin, Amin. Yaa Robal Alamin. 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Heri Bahari


Baca juga  :                                                                                                                          
Sudah Islam Kok Bancakan ? 
Suka menghina dan melecehkan kyai dan ulama zaman dulu 
Sudah Islam Kok Bancakan